Text
1001 Soal Kehidupan
Tak dapat dipungkiri, hidup selalu penuh dengan dinamika persoalan. Meski zaman berganti dan masa berlalu, masalah akan terus muncul seiring perputaran kehidupan. Ada persoalan yang bersifat sementara, namun ada pula yang abadi—tetap ada meski generasi manusia silih berganti.
Beruntunglah mereka yang memiliki keluasan ilmu. Namun, bagi orang awam, menghadapi persoalan pelik bukanlah perkara mudah. Jika tidak ditangani dengan tepat, persoalan tersebut dapat memicu masalah baru, kesalahan fatal, hingga konflik di tengah masyarakat. Sering kali kita saksikan keributan besar mencuat hanya bermula dari masalah sepele yang salah disikapi.
Buku 1001 Soal Kehidupan hadir sebagai pelita dan rujukan. Buku ini merupakan kompilasi jawaban bernas Buya Hamka atas berbagai pertanyaan pembaca di majalah Gema Islam dan Panji Masyarakat. Merupakan gabungan dari dua karya beliau, Membahas Kemusykilan Agama dan 1001 Soal-soal Hidup, buku ini tidak hanya mengulas hukum agama, tetapi juga aspek kemasyarakatan, sejarah, dan kebudayaan.
Topik-topik di dalamnya masih sangat relevan dengan isu kontemporer yang marak terjadi saat ini, mulai dari persoalan Ahmadiyah, ilmu kebatinan, ramalan nasib, hingga dinamika rumah tangga seperti perceraian dan poligami.
Tentang Penulis:
Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) - (1908 – 1981)
Ulama besar, sastrawan, dan Pahlawan Nasional Indonesia ini lahir di Sungai Batang, Sumatra Barat. Hamka adalah sosok otodidak yang tercatat sebagai penulis Islam paling produktif dalam sejarah modern Indonesia. Yunan Nasution mencatat, selama 57 tahun berkarya, Hamka melahirkan 84 judul buku.
Kiprahnya membentang luas: dari wartawan, pengajar, politisi Masyumi, hingga menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama. Beliau aktif di Muhammadiyah hingga akhir hayatnya. Atas dedikasinya, ia dianugerahi gelar Doktor Kehormatan oleh Universitas al-Azhar dan Universitas Nasional Malaysia, serta dikukuhkan sebagai Guru Besar oleh Universitas Moestopo.
Karya-karya sastranya yang legendaris seperti Di Bawah Lindungan Ka'bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck bermula dari cerita bersambung di majalah Pedoman Masyarakat dan terus dicetak ulang hingga kini. Nama besarnya kini diabadikan sebagai nama universitas milik Muhammadiyah, Universitas Hamka (UHAMKA).
Tidak tersedia versi lain